Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 31 Maret 2014

penilaian Status Gizi masyarakat (PSG)



Penilaian status gizi masyarakat (PSG)

A. pendahuluan
Peran dan kedudukan PSG dalam ilmu gizi adalah untuk mengetahui status gizi, yaitu ada tidaknya malnutrisi pada individu atau masyarakat. PSG penting karena terjadinya kesakitan dan kematian terkait dengan status gizi, maka dengan melakukan PSG pada individu atau masyarakat kita akan dapat mengetahui kelainan tersebut.
Definisi PSG adalah interpretasi dari data yang didapat dengan menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi atau individu yang beresiko atau dengan status gizi buruk.
Metode dalam PSG dibagi 3 kelompok yaitu:
1.      Metode secara langsung, terdiri dari penilaian dengan melihat tanda klinis, test lab(biokimia), metode biofisik, dan antropometri
2.      Penilaian dengan melihat statistik kesehatan yang biasa disebut PSG tidak langsung karena tidak menilai individu secara langsung
3.      Penilaian dengan melihat variabel ekologi
Tujuan penilaian PSG:
1.      Memberikan gambaran secara umum mengenai metode penilaian status gizi
2.      Memberikan penjelasan mengenai keuntungan dan kelemahan dari masing-masing metode yang ada
3.      Memberikan gambaran singkat mengenai pengumpulan data, perencanaan dan implementasi untuk penilaian status gizi.
B. penilaian status gizi secara langsung:
1.      Biokimia
Test laboratorium meliputi pemeriksaan biokimia, hematologi, dan parasitologi.
Butuh spesimen yang akan diuji seperti darah, urin, tinja dan jaringan tubuh seperti hati, otot, tulang, rambut, kuku, dan lemak bawah kulit.
Kelebihan dari penggunaan  tes biokimia yaitu:
·         Objektif
·         Gradible, dapat dirangking apakah ringan, sedang atau berat.
Kekurangan dari penggunaan tes biokimia yaitu:
·         Mahal
·         Keberadaan lab kadang jauh dari lokasi survai
·         Kesukaran yang berhubungan dengan spesimen pada saat pengumpulan, pengawetan, dan transportasi.
·         Dibutuhkan data referensi untuk menentukan hasil lab.
2.      Pemeriksaan tanda-tanda klinik
Dapat dilihat dari jaringan epitel mata, kulit, rambut, mukosa mulut dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tyroid.
Kelebihan penggunaan tanda klinik yaitu:
·         Murah
·         Cepat
·         Tidak membutuhkan highly qualified staff
·         Tidak menimbulkan rasa sakit pada orang yang diperiksa
Keterbatasan penggunaan tanda-tanda klinik:
·         Subjektif
·         Keterbatasan kepastian penyebab zat gizi, terkadang penyebabnya bukan karena kurang gizi, tetapi penyebab lain seperti nfeksi (misalnya kasus anguler stomatitis ternyata dapat disebabkan bukan oleh kurangnya ryboflavin, tetapi karena jamur monilia. Anemia dapat disebabkan juga tidak hanya kekurangan zat gizi, tetapi infeksi cacing tambang).
·         Diperlukan staf yang terlatih dengan sangat baik
·         Banyak tanda klinik yang muncul pada tingkat defisiensi berat.
3.      Pemeriksaan biofisik
Metode biofisik adalah penentuan status gizi berdasarkan kemampuan fungsi dari jaringan dan perubahan struktur dari jaringan. Contoh:
·         Pada kasus rabun senja dilakukan tes adaptasi dalam gelap
·         Pemeriksaan fisikal ferpormance(energyexpenditure & work capacity) yang dihubungkan dengan anemia.
·         Pemeriksaan ocular impresion cytology, menempelkan kertas saring pada conjunctiva untuk melihat bentuk dari sel goblet, jika gepeng dan tidak ada inti, maka dikatakan kurang vitamin A.
4.      Pengukuran antropometri
Pengukuran antropometri adalah pengukuran terhadapa dimensi tubuh dan komposisi tubuh.


Macam- Macam Penyakit Keturunan (Herediter)
Definisi penyakit keturunan
Penyakit keturunan adalah suatu penyakit kelainan genetik yang diwariskan dari orangtua kepada anaknya secara genetis. Namun ada orangtua yang hanya bertindak sebagai pembawa sifat (carrier) saja dan penyakit ini baru muncul setelah dipicu oleh lingkungan dan gaya hidupnya.
Berbagai macam penyakit keturunan yaitu:
1.    Alergi
Alergi merupakan Salah satu penyakit akibat faktor keturunan. Namun alergi  dapat dipicu oleh arergen hirup(tungau debu), makanan, dan alergen suntik(gigitan serangga atau suntikan). Umumnya dengan gejala yang muncul apabila terena alergi yaitu bersin terus menerus, batuk-batuk, kulit memerah atau gatal-gatal,dsb.
2.    Obesitas (kegemukan)
Salah satu penyebab obesitas yaitu faktor gen atau keturunan, gen menurun tersebut menyebabkan fungsi penahan nafsu makan tidak bekerja dengan baik.
3.    Buta Warna
Dapat diartikan sebagai keabnormalan yang terjadi pada panca indra penglihatan seseorang kareana sel-sel kerucut mata telah rusak sehingga tidak mampu menangkap suatu spektrum warna tertentu. Ketidakmampuan sel-sel ini bekerja diakibatkan oleh faktor genetik yang berasal dari orang tua penderita.
4.    Asma
Asma adalah penyakit genetik pada manusia yang berupa menyempitnya saluran pernafasan, asma bisa timbul bila dipicu oleh adanya suatu alergen disekitarnya.  Selain itu sekitar 30% penyakit asma disebabkan  karena faktor  keturunan.
5.    Penyakit Albino
Penyakit albino diturunkan dari gen orangtua kepada anaknya. Pada umumnya, penderita albino lahir dari orang tua yang punya gangguan  dalam hal produksi melaninnya. Orang yang memiliki gen albino, tubuhnya tidak dapat memproduksi pigmen melanin.
Penyakit albino ditandai dengan tampak kulit putih-putih, rambut putih yang tidak wajar.
6.    Kanker payudara
Dikatakan kanker payudara apabila terdapat perubahan atau mutasi tertentu pada DNA sel payudara. Gejala kanker payudara yaitu umumnya kulit payudara atau puting berwarna kemerahan, bersisik, atau menebal.
7.    Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)
Hipertensi adalah penyakit keturunan pada manausia dimana penyakit ini karena meningkatnya tekana darah diatas normal. Penyakit turunan ini sering tidak disadari karena tidak ada gejala.
8.    Kolestrol Tinggi
Penyakit dimana  diakibatkan perubahan gen ketika lemak tidak mengalami metabolisme yang baik dalam darah sehingga menumpuk di arteri. Penyakit ini jika salah satu dari orang tua mengidap kolestrol tinggi, anaknya akan beresiko 50% terjangkit penyakit kolestrol tinggi tersebut.
9.    Hipotiroid
Penyakit hipotiroid terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan cukup hormon tiroksin. Gejala yang muncul yaitu sering kelelahan dan penurunan berat badan.
10. Gangguan Bipolar
Penyakit gangguan bipolar adalah suatu kondisi yang mengakibatkan depresi yang dipicu karena stress.
11. Diabetes
Penyakit diabete memiliki resiko yang tinggi diturunkan jika dalam satu keluarga terdapat anggota keluarga yang mengidap penyakit diabetes , jika salah satu orangtua mengidap diabetes, resiko penyakit tersebut diturunkan sebasar 15% tapi jika kedua orangtua nya nya mengidap penyakit diabetes maka resiko diturunkannya sebesar 70%.
12. Parkinson
Gejala penyakit parkinson tidak banayk diketahui, pada banyak kasus yang terjadi, awal dari penyakit parkinson diawali denga gemetar pada bagian tangan ketika sedang beristirahat. Penyakit parkinsonini beresiko diturunkan jika memiliki orang tua, saudara, atau kerabat dekat dengan gangguan parkinson, maka dua kali lipat lebih mungkin emngalami penyakit yang sama.
Maka orangtua yang memiliki gen penyakit turunan, sebaiknya segera memeriksakan anaknya.

Selasa, 18 Maret 2014

Imunisasi







Imunisasi merupakan suatu tindakan pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kekebalan imunitas melalui pemberian bibit penyakit yang telah dilemahkan atau dimatikan

2.      Imunisasi BCG
Imunisasi BCG bertujuan untuk memberikan kekebalan / pertahanan aktif terhadap penyakit TBC.
Jadwal pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai berumur 12 bulan, tetapi sebaiknya diberikan pada umur 0-2 tahun.  Imunisasi BCG cukup diberikan 1 kali saja. Pada anak yang akan diimunisasi dengan usia lebih dari 2 bulan, harus dilakukan Montaux test dulu. Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya hasil positif, anak tersebut selayaknya tidak mendapat imunisasi.
Reaksi yang mungkin timbul pada pemberian imunisasi BCG adalahkadang bernanah, tetapi akan sembuh dengan sendirinya walaupun lambat. Biasanya suntikan BCG tidak menimbulkan pana.

3.      Imunisasi DPT
Tujuan pemberian Imunisasi DPT adalah memberikan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit diphteri, pertusis dan tetanus.
Imunisasi DPT dapat diberikan 3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu antara dua penyuntikan minimal 4 minggu.
Reaksi yang mungkin trjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari.
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah dan anak yang menderita penyakit kejang demam kompleks.

4.      Imunisasi poliomiolitis.
Vaksinasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis.
Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari, selanjutnya setiap 4-6 minggu. Pemberian imunisasi Polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, Hepatitis B, dan DPT.


Reaksi yang timbul tidak ada, mungkin akan terdapat berak-berak ringan.
Pada anak dengan diare berat atau sedang sakit parah, imunisasi polio dapat ditangguhkan.

5.      Imunisasi Campak
Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif.
Menurut WHO imuniasi campak cukup diberikan 1 kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan, tetapi karena angka kesakitan campak di Indonesia masih tinggi, pemerintah mencnagkan pemberian imunisasi campak sebelum usia 9 bulan, yaitu antara usia 6-9 bulan.
Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam ringan dan tampak sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan.
 

Blogger news

Blogroll